Senin, 05 Februari 2018 | 11:25:37 WIB | Dibaca : 1062 Kali

Menghormati Guru

MENGHORMATI GURU (Belajar dari Kasus Pak Budi)

Editor: Ahmad Dawi - Reporter: Mohd Nishwan Saputra - Fotografer: Istimewa
MENGHORMATI GURU (Belajar dari Kasus Pak Budi) Teks foto:

Menghormati Guru

Oleh Musa Ismail

(ASN di Disdik Bengkalis, Dosen di STAIN Bengkalis,

pernah menjadi Pendidik)

Kasus tewasnya Pak Budi (Ahmad Budi Cahyono), pendidik di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur (awal Februari 2018) di tangan siswanya menjadi tamparan telak bagi dunia pendidikan. Apakah yang terjadi dengan generasi kini? Sudah begitu parahkah mental generasi muda bangsa Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian intensif perlu dilakukan. Banyak sekali persoalan sebab akibat yang harus diungkap. Kenyataan ini memang sejatinya diungkap untuk mencari solusi efektif agar tragedi serupa tidak terjadi lagi. Namun, dalam tulisan ini, saya ingin mengingatkan kembali bahwa guru mutlak harus dihormati, bukan dibunuh!

Guru merupakan tokoh penting dalam pembentukan peradaban bangsa. Dalam kitab pendidikan Islam, guru sering disamakan dengan ustaz, mualim, murabi, mudaris, dan muadib. Keberadaannya tidak akan bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Hal ini dikarenakan keberadaan guru yang memanusiakan manusia. Tanggung jawab memanusiakan manusia ini tidak bisa diambil alih oleh teknologi. Sehubungan dengan tanggung jawab inilah, peradaban suatu bangsa akan terbentuk dengan kekhasannya. Justru dengan kemajuan teknologi begitu pesat, keberadaan guru semakin diperlukan. Gunanya sebagai pembentuk karakter dan pembatas terjangan-terjangan negatif dari teknologi. Keberadaan guru ini mendapat perhatian khusus dari Allah Taala, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dan makhluk lain.

Dalam Islam, guru mendapat derajat tertentu. Bahkan, derajat khusus bagi guru ini mendapat perhatian khusus pula di hadapan Allah Taala. Derajat guru dalam Islam tergambar dalam firman Allah. ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan  beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mujadalah:11). Guru adalah orang berilmu. Karena itu, Allah Taala akan menempatkan guru pada derajat tertentu. Namun, jika kita kaji ayat ini, derajat yang dijanjikan Allah Taala itu akan diperoleh kalau sejalan dengan keimanan.  Secara linguistik, frasa orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan merupakan persyaratan mutlak untuk memperoleh derajat yang tinggi itu.

Keistimewaan guru ini juga ditegaskan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan ikan besar, semuanya bersalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR Tirmizi). Begitu tingginya derajat guru juga tergambar dalam sabda Rasulullah yang lain, ”Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para syuhada” (HR Abu Daud dan Tarmizi). Inti kutipan Alquran dan hadis tersebut menegaskan betapa tingginya makam guru (yang beriman). Kemuliaan ini tentu saja disebabkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan guru. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran inilah yang akan membentuk karakter madaniah suatu bangsa. Jadi, wajar saja ada ungkapan yang mengatakan bahwa guru merupakan profesi mulia. Akan tetapi, pernyataan ini semestinya kita lanjutkan dengan jika guru tersebut benar-benar mendidik dengan keimanan.

Pada hakikatnya, Allah Taala Maha Guru. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga guru. Jibril Alaihisallam pun guru. Orang tua atau siapa pun yang menyampaikan kebaikan dan kebenaran adalah guru. Di masa dan negara tertentu, pemerintahnya begitu mempedulikan keberadaan guru. Kepedulian ini sebagai bentuk gerakan menghormati para pencerdas kehidupan. Kepedulian ini sangat wajar karena pemilik alam semesta saja menganjurkan penghormatan kepada para guru. Bahkan, dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullahi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas bersabda, ”Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya). Ini suatu teguran keras dari  Rasul dengan perkataan tidak termasuk golongan kami. Artinya, beliau tidak mau mengakui sebagai umatnya kepada siapa saja yang tidak memuliakan guru, termasuk orang tua.

Uraian di atas membuktikan bahwa Islam sangat menyanjungi guru. Karena kedudukannya tersebut, sudah selayaknya kita menghormati para guru. Bangsa dan negara besar seperti Indonesia selayaknya memberikan penghormatan khusus kepada para pendidik bangsa. Guru memang tidak pernah minta dihormati. Penghormatan terhadap guru merupakan cerminan keagungan Islam yang menghormati kedudukan para guru. Karena itu, bangsa dan negara ini seharusnya melakukan GMG (Gerakan Menghormati Guru). Gerakan ini melibatkan seluruh bangsa Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Dalam Islam, ada beberapa cara menghormati guru. Pertama, tawaduk. Pengertian sederhanyanya adalah rendah hati, patuh, taat, tidak meremehkan, dan tidak seombong kepada Allah Taala. Selain itu, kita juga dianjurkan tawaduk kepada nabi, ulama, orang tua, guru. Ini bermakna bahwa tawaduk merupakan suatu akhlak mulia. Suatu yang mulia (ilmu dan profesi guru), hanya kita peroleh melalui tawaduk. Umar bin Khattab mengatakan, tawaduklah kalian terhadap orang yang mengajari kalian. Lawan dari tawaduk adalah sombong atau meremehkan orang lain (guru). Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis Muslim, ”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Kedua, berlemah lembut, sopan, segan, dan bersabar. Imam al-Syafii berkata, dulu aku membolak-balikkan kertas di depan guru (Imam Malik) dengan sangat lembut karena segan kepadanya dan supaya dia tidak mendengarnya. Selanjutnya, bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya. Pernyataan Imam al-Syafii ini sangat empiris. Kuncinya, yaitu kita tidak menguasai ilmu dikarenakan memusuhi guru. Ketiga, beradab terbaik. Adab berkaitan dengan kehalusan budi pekerti atau berakhlak mulia ketika berhadapan dengan guru. Dalam riwayat Thabrani, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda, pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawaduklah kepada orang yang mengajarimu. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Tolib al-Ilm berkata, beradablah dengan yang terbaik pada saat kamu duduk bersama syaikhmu. Gunakanlah cara yang terbaik ketika bertanya dan mendengarkannya. Berkaitan denga adab ini juga, Ibnu al-Jamaah mengatakan, seorang penuntut ilmu harus duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, tawaduk, mata tertuju kepada guru, tidak menyelunjurkan kaki, tidak bersandar, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi daripada gurunya, dan tidak membelakangi gurunya. Keempat, mendoakan guru. Abdullah, putra Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya. ”Syafii itu seperti apa orangnya sehingga aku melihat ayah banyak mendoakannya?” Imam Ahmad menjawab, ”Wahai anakku, Syafii seperti matahari bagi dunia.

Di akhir tulisan sederhana ini, mari kita simak penjelasan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin. Menurutnya, hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalaulah bukan karena jerih payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tidak bermanfaat. Para gurulah yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal. Selanjutnya, seseorang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya itu, dialah yang disebut dengan orang besar di semua kerajaan langit. Dia bagaikan matahari yang menerangi alam. Ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti minyak kasturi yang mengharumi orang lain karena ia harum. Seorang yang menyibukkan dirinya dalam mendidik berarti dia telah memilih pekerjaan terhormat. SEMOGA GURU INDONESIA TIDAK DIZALIMI!***

 

*) Musa Ismail dilahirkan di Pulau Buru Karimun, 14 Maret 1971. Karyanya adalah kumpulan cerpen "Sebuah Kesaksian" (2002), esai sastra-budaya "Membela Marwah Melayu"  (2007), novel "Tangisan Batang Pudu" (2008), kumpulan cerpen "Tuan Presiden,  Keranda,  dan Kapal Sabut"  (2009), kumpulan cerpen "Hikayat Kampung Asap" (2010), novel "Lautan Rindu" (2010), kumpulan cerpen "Surga yang Terkunci" (2015), dan novel ”Demi Masa” (2017). Pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan (2010) dan peraih Anugerah Pemagku Prestasi Seni Disbudpar Provinsi Riau (2012). Puisi-puisinya terjalin dalam beberapa antologi karya pilihan harian Riau Pos,  antologi "Setanggi Junjungan" (FAM Publishing, 2016), antologi puisi HPI "Menderas sampai ke Siak" (2017),  "Mufakat Air" (2017), Antologi Matahari Sastra Riau (2017), Antologi ”Mengunyah Geram”: Seratus Puisi Melawan Korupsi (2017), Antologi Puisi Kemanusiaan dan Anti-Kekerasan ”Dari Sitture ke Kuala Langsa” (2017).

 

 

 

[Ikuti Terus Disdik Bengkalis Melalui Sosial Media]







Disdik Bengkalis
di Google+



Disdik Bengkalis
di Instagram
Baca Juga
Tulis Komentar
Berita Terkini
Selengkapnya
Agenda Kegiatan
Berita Terpopuler